Selasa, 26 Februari 2013

Penguasaan Diri

"Orang yg tak dpt mengendalikan diri adalah seperti kota yg roboh temboknya". (Amsal 25:28).

Kota pada zaman dulu dikelilingi dengan tembok. Kota yang roboh temboknya akan mudah diserang musuh. Orang yg tidak dapat mengendalikan diri itu seperti kota yang roboh temboknya, mudah diserang musuh, dipermainkan orang jahat.

Perenungan pribadi: 
1) Apakah saya mudah terpancing untuk marah/tersinggung? 
2) Apa yg perlu saya lakukan untuk mengatasinya?

Jumat, 09 November 2012

Membela Bangsa

Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya.” (Yeh 22:30)

Kalau kita membaca Yehezkiel pasal 22 ini kita bisa mendapati betapa Israel ada dalam kondisi yang sangat bobrok. Para nabi, imam, pemimpin dan rakyat melakukan kejahatan di mata Tuhan. Karena kondisi inilah maka Tuhan berencana untuk menghukum Israel. Tetapi dalam kondisi seperti itupun Tuhan masih mencari apakah ada seorang yang hendak mempertahankan negeri itu dari murka Tuhan. Tuhan mencari satu orang yang akan mempertahankan bangsanya dihadapanNya supaya Ia tidak memusnahkannya.

Ketika Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir, pernah suatu kali Ia murka karena kejahatan bangsa Israel dan bermaksud membinasakannya (Kel 32:9-10), tetapi ada seorang bernama Musa yang berani berdiri dihadapan Tuhan dan membela bangsanya sehingga murka Tuhan surut (Kel 32:11-14). Sebenarnya Musa memiliki kesempatan besar untuk melihat keturunannya sendiri yang akan menjadi bangsa yang besar, tetapi ia bukanlah seorang yang mementingkan diri sendiri. Ia merasa bertanggungjawab atas keselamatan bangsa yang Tuhan sudah percayakan padanya untuk ia pimpin keluar dari Mesir, karena itulah ia mengemukakan argumentasinya dihadapan Tuhan.

Tuhan mecari orang-orang seperti Musa yang berani membela bangsanya supaya jangan dibinasakan Tuhan, orang-orang yang mau mengorbankan kepentingan diri sendiri demi keselamatan suatu bangsa yang besar. Bangsa kita pun memerlukan orang-orang seperti ini yang mau membela kepentingan bangsanya dihadapan Tuhan dan memohon belas kasihan Tuhan. Apakah Anda termasuk dalam bilangan orang-orang seperti ini?

Rabu, 24 Oktober 2012

Ask Whatever You Wish

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. (Yohanes 15:7)

Seseorang yang berdoa pada Tuhan tentu ingin agar doanya segera dikabulkan oleh Tuhan. Senang rasanya kalau apa yang kita doakan segera dikabulkan oleh Tuhan. Tuhan Yesus mengatakan dalam nas di atas bahwa kita boleh meminta apa saja yang kita inginkan, dan kita akan menerima apa yang kita minta itu. Tetapi seringkali fakta berkata lain, apa yang sudah kita doakan dengan sungguh-sungguh ternyata tidak juga dikabulkan Tuhan. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Seringkali orang hanya terpaku pada frase: “mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya”, dan mengabaikan frase yang ada di depannya: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu”. Padahal apa yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus ini adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Jika kita ingin apa yang ada pada frase kedua terjadi dalam hidup kita maka apa yang ada di frase sebelumnya harus kita penuhi dahulu. Frase “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu” mempunyai pengertian yang sangat dalam. Singkatnya frase tersebut berarti adanya suatu persekutuan yang karib antara diri kita dengan Tuhan dan firmanNya.

Persekutuan yang karib dengan Tuhan dan firmanNya diaplikasikan dalam hidup kita melalui doa, pembacaan dan perenungan firman, dan menjalani kehidupan kita setiap hari sesuai dengan perintah-perintah Tuhan. Sudahkah Anda melakukan hal-hal ini?

Selasa, 16 Oktober 2012

Menerima Pimpinan Tuhan

Jawab Kornelius: "Empat hari yang lalu kira-kira pada waktu yang sama seperti sekarang, yaitu jam tiga petang, aku sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba ada seorang berdiri di depanku, pakaiannya berkilau-kilauan.” (Kisah Para Rasul 10:30)

Mungkin ada di antara Anda yang bertanya-tanya bagaimana caranya supaya kita bisa menerima pimpinan dari Tuhan? Kalau kita melihat contoh-contoh yang ada di Alkitab kita bisa mengetahui orang-orang seperti apakah yang kerapkali menerima pimpinan langsung dari Tuhan. Sebagai contohnya kita bisa menyebutkan nama Abraham, Samuel, dan Daud untuk mewakili tokoh-tokoh dari Perjanjian Lama. Dari tokoh-tokoh Perjanjian Baru kita bisa belajar dari Kornelius dan Petrus. Apakah kesamaan dari tokoh-tokoh tersebut? Paling tidak kita bisa belajar tentang ketaatan dan keintiman mereka dalam hubungannya dengan Allah.

Kornelius dan Petrus menerima pimpinan dari Allah ketika mereka sedang berdoa. Ketika Kornelius sedang berdoa kira-kira jam 3 petang tiba-tiba seorang malaikat menjumpainya dan menyampaikan pesan dari Allah (ayat 30). Kornelius taat kepada Allah dan melaksanakan pesan tersebut dengan mengutus anak buahnya untuk menjemput Petrus.

Petrus juga menerima pimpinan Allah ketika dia sedang dalam suasana doa (ayat 9-19). Lalu ia pun taat melakukan apa yang Allah kehendaki meskipun dia harus melakukan sesuatu yang melanggar tradisi yang ada. Waktu itu orang-orang Yahudi dilarang bergaul dengan orang-orang bukan Yahudi.

Dari contoh kehidupan Kornelius dan Petrus kita bisa belajar bahwa untuk menerima pimpinan Tuhan paling tidak kita harus menyediakan diri kita untuk mau dipimpin Tuhan. Ini berkaitan dengan ketaatan kita dalam melakukan firman Tuhan. Orang-orang yang menyediakan dirinya untuk dipimpin Allah pasti akan menerima pimpinanNya. Lalu ada satu hal lagi yang perlu kita lakukan untuk menerima pimpinan Allah, hiduplah dalam pergaulan yang intim dengan Allah. Kita berdoa bukan cuma waktu ada masalah, tetapi berdoalah setiap waktu baik ketika ada masalah atau pun ketika segala sesuatunya berjalan dengan lancar. Kalau ini kita lakukan maka pimpinan Tuhan akan nyata dalam hidup kita.

Selasa, 09 Oktober 2012

Memusuhi Allah

"Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah." (Yakobus 4:4)


Tidak sedikit umat Kristen yang tanpa sadar telah menjadikan dirinya sebagai musuh Allah. Mungkin hal ini terjadi karena ketidaktahuan atau kurangnya pemahaman akan firman Tuhan. Teks di atas menunjukkan pada kita bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah. Orang yang mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya sesungguhnya tidak sedang mengasihi Allah (1 Yoh 2:15). Ketika seseorang tidak menggunakan tubuhnya untuk kebenaran tetapi malah menggunakannya untuk melakukan segala perbuatan dosa dan kedagingan maka sesungguhnya orang tersebut sedang menjadikan dirinya musuh Allah.

Apa saja yang Alkitab nyatakan tentang segala yang berasal dari dunia? Keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup! Ketiga hal ini adalah berasal dari dunia. Orang-orang yang dikuasai hawa nafsu akan menimbulkan perselisihan dan pertengkaran. Yang ada di pikiran mereka adalah bagaimana bisa memperoleh lebih lagi bagi kesenangan dirinya. Mereka akan menghalalkan segala cara dan tidak peduli dengan sesamanya yang menderita atau tertindas demi pemuasan kepentingan pribadi mereka (Yak 4:1-3). Orang Kristen yang hidupnya dikuasai oleh ketiga hal ini menjadikan dirinya sahabat dunia. Dengan menjadi sahabat dunia otomatis orang itu sedang menjadikan Allah sebagai musuhnya.

Jangan jadikan Allah musuh kita! Kalau tanpa sadar kita telah melakukan hal-hal yang membuat kita jadi musuhnya Allah mari kita bertobat sekarang juga! Tinggalkan hawa nafsu kedagingan dan mulailah hidup dalam keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.

Kamis, 04 Oktober 2012

Kunci Keberhasilan

"Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yohanes 15:7)

Setiap orang tentu ingin mengalami keberhasilan dalam hidupnya. Tetapi tidak semua orang mengerti kunci keberhasilan yang sejati. Dunia mengukur keberhasilan seseorang dengan melihat kekayaan, kedudukan, dan ketenaran yang orang tersebut miliki. Makin kaya, makin tinggi kedudukannya, makin tenar seseorang berarti makin berhasil orang itu di mata dunia. Inilah standar dan ukuran yang dipakai dunia untuk melihat tingkat keberhasilan seseorang. 
 
Demi mengejar keberhasilan di dunia ini, tidak sedikit orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Secara sadar atau tanpa disadari mereka telah mengorbankan kepentingan dan kebahagiaan orang lain, teman, dan bahkan rumah tangga dan keluarga. Mereka telah tertipu dengan daya tarik dunia ini dengan mengorbankan hal-hal yang lebih utama seperti kasih, keadilan, kesetiaan, dan kedamaian. 
 
Teks dalam Yohanes 15:7 di atas merupakan janji dari Tuhan Yesus buat orang-orang sungguh-sungguh manunggal dengan Dia dan firmanNya. Orang yang hidup dalam persekutuan yang erat dengan Kristus dan memiliki firman Tuhan dalam hidupnya akan mengalami keberhasilan. Mengapa? Karena setiap permintaannya akan dikabulkan oleh Tuhan. Lewat permintaannya itu Allah Bapa dipermuliakan di dalam Anak (Yoh 14:13, 16:23). Tidak ada lagi permintaan-permintaan yang akan digunakan untuk memuaskan hawa nafsunya saja. Permintaan-permintaan yang diajukan oleh orang yang manunggal dengan Kristus dan firmanNya akan sejalan dengan kehendak Allah Bapa, jadi pasti akan dikabulkan.

Keberhasilan menurut kehendak Allah adalah keberhasilan yang menyeluruh sifatnya. Bukan hanya berhasil di dunia ini tetapi juga berhasil di dalam kekekalan. Bukan semata-mata bersifat jasmani tetapi terutama juga yang bersifat rohani. Keberhasilan seperti apakah yang Anda impikan?

Jumat, 28 September 2012

Penulis Hidupku

Rintik hujan terdengar dengan jelas sementara alunan dari lagunya Sydney Mohede mengalir masuk ke telinga saya. "Kau terawal dan terakhir pencipta segalanya... S'luruh bintang pun bersinar oleh ucapanMu... Engkau pun mengasihiku penulis hidupku... Tak henti seg'nap napasku menyembahMu s'lalu... Kupuji kusembah tiada sepertiMu... Kuingin hidupku menyenangkanMu... S'gala puji s'gala hormat... s'gnap hatiku menyembahMu...Terimalah s'gnap hidupku... sebagai persembahan yang hidup..."

Hati saya kembali tersentak oleh kebenaran ini. Allah adalah penulis hidupku. Dari mulanya Dia sudah punya rancangan yang spesifik mengenai kehidupanku. Saya diciptakan secara khusus untuk menjalani kehidupan yang khusus pula seperti rancanganNya. Wow... Jadi lega rasanya teringat kembali hal ini. Saya tahu Allah itu baik. Saya tahu pasti bahwa Dia tidak akan pernah membawa saya kepada sesuatu yang akan berakibat buruk buat saya. Saya masih ingat betapa Allah begitu memperhatikan kehidupan saya ini sampai hal yang sekecil-kecilnya. Allah tidak pernah lupa membuat jantung saya berdetak dengan teratur setiap hari. Dia tidak pernah lupa membuat paru-paru saya bekerja sehingga saya dapat bernafas dengan mudah. Meskipun Allah begitu agung dan tak terselami oleh akal pikiran kita, tetapi Dia mau memperhatikan saya yang begitu kecil bila dibandingkan dengan alam semesta yang begitu besar dan luas. Wow... Luar biasa! Saya bersyukur punya Allah seperti ini. He is my only Amazing God!!!

Mengingat rancangan dan janji Allah dalam hidup kita mestinya kita tidak perlu takut atau khawatir lagi mengenai masa depan kita. Di dalam Yeremia 29:11 Dia pernah berkata:Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Juga di dalam Yesaya 41:10 Dia berkata: “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”

Yang menjadi pertanyaan adalah: “Apakah kita sungguh-sungguh meyakini rancangan dan janji Allah buat kita ini? Atau masihkah ada keragu-raguan di dalam hati dan pikiran kita?” Kalau kita masih merasa khawatir akan hidup kita dan takut untuk menapaki masa depan, itu berarti kita tidak mempercayai Allah dengan segenap hati. Itu berarti pengenalan kita akan Dia masih sangat kurang sehingga kita tidak bisa mempercayakan hidup kita padaNya. Kita tidak percaya bahwa Dia sanggup melakukan apa pun untuk kebaikan kita.

Sebaliknya kalau kita mengenal Allah yang kita sembah dengan baik maka kita akan dapat berkata seperti pemazmur berkata: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." (Mzm 91:2). Badai boleh saja menerpa hidup kita tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. (Yes 40:31).

Daud adalah seorang yang sangat mengenal Allahnya. Berdasarkan pengalaman hidupnya dalam mengiring Tuhan, dia menulis Mazmur 37. Sebuah mazmur yang sangat indah dan sangat menguatkan. Saya sarankan Anda bisa meluangkan waktu untuk membaca keseluruhan pasal 37 ini. Anda akan sangat diberkati. Sekarang saya akan mengutip sebagian dari pasal ini. Dalam ayat 25-26 dia berkata: ”Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat.”

Allah tidak pernah melupakan atau meninggalkan orang benar, bahkan keturunan orang benar tidak akan pernah kekurangan, keturunan orang benar malahan akan menjadi berkat bagi sesamanya. Itu adalah pengalaman Daud, dan saya pun sudah melihat hal ini terjadi terhadap orang-orang benar dan keturunannya di masa sekarang ini. Saya yakin Anda pernah juga melihatnya bukan? Jadi, mari kita terus berharap dan mempercayakan hidup kita hanya kepadaNya. Allah tidak akan pernah mengecewakan orang yang benar-benar berserah kepadaNya.

Bagaimana hubungan Anda dengan Allah akhir-akhir ini? Apakah Anda sudah membiasakan diri berkomunikasi dengan Allah setiap hari? Ingat! Pengenalan kita akan Allah bergantung pada seberapa sering kita bergaul dengan Dia setiap hari.

 
Custom Search